PWDPI ACEH - Diduga lakukan penggelapan uang perusahaan, karyawan PDAM yang berinisial U mengklarifikasi berita tersebut. Berita tersebut hanya sepihak tanpa menunggu konfirmasi dari saya,
Saya tidak pernah melakukan pengelapan uang perusahaan, malahan selama ini saya yang membantu biaya operasional dan perbaikan jaringan / instalasi PDAM yang rusak. Setelah saya membantu biaya operasional/ perbaikan instalasi yang rusak dan bocor. Uang/ RAB saya tidak juga di bayarkan oleh direktur PDAM Tirta peusada. Sehingga sempat ribut.
Akhirnya untuk menarik kembali uang saya. Ya uang pemasangan sambungan Rumah ( SR) dan juga uang penjualan rekening tidak saya setor. Tapi saya kirem bon memotong uang yang saya keluarkan untuk operasional PDAM khususnya unit Madat dan cabang PDAM cabang Lhok Nibong pada umumnya. Ungkap karyawan senior PDAM dengan geram karena dituduh melakukan pengelapan uang perusahaan.
Menurut informasi nya. Ini bukan kasus pertama, dulunya ada juga mantap kacab Lhok Nibong yang di suruh pakai uang pribadi oleh direktur Iskandar, untuk mengerjakan proyek pemasangan pipa, setelah selesai proyek pemasangan pipa pdam.uangnya cair dan langsung diambil direktur PDAM semua nya. Setelah itu Bukan nya di Bayar uang Mareka.
Tapi di tahan tahan. Hingga timbul percekcokan, YG berujung, diancam baru di bayar. Namun karyawan tersebut di bangku panjang kan, begitu juga konflik dengan beberapa karyawan senior PDAM. , Bukan ulah karyawan, tapi ego nya Yang SE olah oleh dia kaki tangan bupati, uknum direktur pernah berucap: kalian jangan macam-macam. Aku tangan kanan bupati di PDAM, kalo tidak tunduk pada aturan saya, saya binasakan, ujar karyawan lain nya menirukan ucapan Iskandar saat rapat di tahun 2021.
Persoalan PDAM selama Iskandar menjabat direktur banyak menimbulkan kegaduhan sesama karyawan PDAM, karena memang di adu domba bagi yang tidak dia sukai.
Dua tahun terakhir PDAM Tirta Peusada salah satu BUMD Kabupaten Aceh Timur kerap menjadi sorotan publik, sorotan bertubi tubi bukan hanya pada persoalan pelayanan suplai air, akan tetapi isu Kolusi, Korupsi dan Nepotisme(KKN) di bawah Direksi menjadi konsumsi Publik.
Bila dilihat dari kilas balik, tahun 2021 Inspektorat Aceh Timur temukan mark up harga belanja barang dan jasa capai Rp 100 juta lebih, dimana Inspektorat perintahkan direktur untuk kembalikan uang kelebihan bayar.dan tidak bisa di aktifkan lagu karena besarnya nominal melebihi pemasangan baru.Jumlah Itu tidak akan cukup untuk menutupi yang tidak terbayar selama Direktur Iskandar.
Menurut nya, perlu diingat kembali bahwa direktur lama menyisakan saldo diKas perusahaan lebih kurang 10 juta, tapi tidak ada hutang apapun (bersih).Sumber menilai, managemen perusahaan memang tidak ada niat baik untuk membayar dana pensiun 13 orang karyawan
Kasihan Mereka yang sudah menunggu selama 4 tahun meskipun dikasi jatah hidup sebesar 1,2 juta - 1,6 juta/ bulan tapi kan ga cukup untuk biaya kehidupannya dan Jatah Hidup(Jadup) juga menjadi beban perusahaan yang mana harus dibayar tiap bulan, imbuhnya.
Sumber lain menyebutkan, ada dugaan korupsi pada proyek MBR 2022 perluasan jaringan dan sambungan baru di bawah Kementrian PU untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah dalam bentuk Hibah Rp 2 milyar (1000 SR) yang dikerjakan oleh PDAM Tirta Peusada, yaitu Sambungan baru 300 SR di unit Madat, 400 SR di IKK Teumpen, 250 SR di IKK Rantau Seulamat dan 50
SR di unit Pante Bidari Dimana ada pipa 2 inci sebanyak 100 batang yang tidak terpasang di wilayah Madat dialihkan ke IKK Teumpeun, tapi direktur bilang ga usah dibahas lagi.
Harusnya kan bisa untuk pemasangan didesa lain yg belum ada jaringan pipa di unit Madat (ada bukti pengambilan pipanya) .Dimana ada pipa 2 inci sebanyak 100 batang yang tidak terpasang di wilayah Madat dialihkan ke IKK Teumpeun, tapi direktur bilang ga usah dibahas lagi.
Harusnya kan bisa untuk pemasangan didesa lain yg belum ada jaringan pipa di unit Madat (ada bukti pengambilan pipanya) Dimana Masyarakat diwajibkan Membayar 200 ribu/ SR untuk pemasangan hibah, alasan mereka untuk bayar uang 2 bulan rekening air (september - oktober 2022), akan tetapi para kepala tidak boleh Setor melalui Bank melainkan Langsung Ke Kabbag Adm/keuangan(an. Rahmawati,SE)
"ini yang menjadi pertanyaan, harusnya kan menjadi Penerimaan Perusahaan, yang mana sampai sekarang Biaya Pemasangan tidak Habis dibayarkan oleh Direktur, Sedangkan untuk MBR/ Hibah 2023 sudah didata tapi tanpa Jaringan Pipa yg mana nilainya 2 juta/ SR, makin banyak kan Keuntungannya. ujarnya.
Untuk proyek optimalisasi 1000 SR di Idi Rayeuk juga di duga bermasalah, yang mana ongkos kerja belum dikembalikan.
"Kami sudah Jenuh dengan tindak tanduk direktur ini...Imbuhnya.dugaan korupsi tersebut diduga berasal dari pagu meteran baru, dengan nilai kontrak 2 juta rupiah per SR,Jika pemasangan PDAM cuma 1.152.700 itu saja ongkos rp 350 ribu, masa yang pemasangan harga 2 juta ongkos kurang dari rp. 100 ribu
Aneh kan, alasan direktur serta Manajemennya kan harus ada bagian untuk oknum pejabat dan oknum dewan tidak pantas kata kata itu diucapkan Kami Mohon bisa ditindak lanjut permasalahan meteran hibah. harap sumber.Selanjutnya, mengenai ongkos pasang baru selama 2022 aja tidak diterima oleh petugas/karyawan
"Padahal sudah ditarik uangnya dari perusahaan sama direktur sebesar 270 juta lebih. kemana dibawa uangnya, kami sebagai karyawan berharap Keadilan.Terakhir ia menambahkan, untuk THR 2023, mereka harus tagih kelapangan, padahal masyarakat bukan tidak mau bayar tapi mereka mohon tangguh karena berhubung hari raya sudah dekat"
"kami Mohon kepada Pemda jangan lagi tutup nata pada BUMD Aceh Timur karena, kami sebagai pelayanan air bersih kepada masyarakat, tutup nya Disaat kami konfirmasi terkait PDAM Aceh Timur,Gak pernah mengubris Namun hingga saat ini belum mendapatkan penjelasan dan tanggapan dari direktur sehingga berita ini tayang.